review mandiri- hambatan dan cara mengatasi masalah dalam tim
Nama : Siti Maryam
Prodi : Administrasi Bisnis C
NIM : 21031189
Dosem Pengampu : Ce Gunawan, S.E., M.M
Pembahasan kasus atau permasalahan dari materi colaboration, interpersonal communication and business ettiquete
Sebuah tim adalah unit dari dua orang atau lebih yang bebagi misi dan tanggung jawab untuk bekerja agar dapat mencapai tujuan bersama. Definisi tim menurut Naresh Jain (2009), tim terdiri dari anggota dengan keterampilan yang saling melengkapi dan menghasilkan sinergi melalui upaya yang terkoordinasi yang memungkinkan setiap anggota untuk memaksimalkan kekuatan mereka dan meminimalkan kelemahan mereka. Anggota tim diharapkan mampu belajar untuk saling membantu, mengenali potensi diri mereka, dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap orang untuk melampaui keterbasannya.
Keuntungan Tim
Peningkatan
Informasi dan Pengetahuan
Peningkatan
Keragaman Sudut Pandang
Peningkatan
Penerimaan Solusi
Peningkatan
Tingkat Kinerja
Kerugian Tim
Groupthink
Tim kerja
memungkinkan terjadinya free raider
Tim kerja
memungkinkan pengambilan keputusan berlarut-larut
Adanya
agenda-agenda tersembunyi
Ada masanya, suatu perusahaan tidak berperforma secara
maksimal. Padahal mereka memiliki tim yang berpengalaman, teknologi yang baik,
dan ketersediaan modal yang mencukupi tetapi justru berada di belakang
pesaing-pesaing mereka. Keadaan ini mungkin untuk terjadi ketika perusahaan
gagal mencapai kerja sama tim yang maksimal. Tim tidak menyadari bahwa mereka
masuk ke dalam lima “perangkap” yang biasa untuk terjadi namun berbahaya bagi
kelangsungan tim.
Menurut Patrick Lencioni, terdapat 5
hambatan yang membuat tim menjadi tidak kohesif dan efektif:
1. Kurangnya kepercayaan antar anggota
tim. Pada dasarnya, hambatan ini terjadi karena anggota tim tidak bersedia
menampilkan sisi rentannya kepada sesama anggota tim. Mereka tidak mau terbuka
mengenai kelemahan dan kekurangan diri, kesalahan yang dilakukan, serta
kebutuhan untuk meminta bantuan rekan-rekannya. Keadaan ini membuat tim
kesulitan untuk membangun kepercayaan yang merupakan fondasi penting dalam
kerja sama tim.
2. Ketakutan terhadap konflik. Tim yang tidak
saling percaya satu sama lain, tidak akan bersedia untuk terlibat dalam konflik
yang terbuka dan konstruktif. Mereka lebih memilih untuk menyimpan pendapat
yang mereka miliki ketimbang berdebat dengan rekan satu timnya. Anggota tim
memilih untuk mempertahankan keharmonisan (palsu) dalam tim.
3. Kurangnya komitmen dalam tim. Keengganan tim untuk
terlibat dalam konflik mengakibatkan kurangnya komitmen anggota terhadap tim.
Komitmen dalam konteks kerja sama tim berfokus pada pembuatan rencana dan pengambilan
keputusan. Ketika anggota tim tidak memberikan pendapatnya dalam diskusi
(karena takut terlibat konflik), mereka akhirnya tidak benar-benar terlibat
dalam keputusan yang diambil oleh tim.
4. Menghindari pertanggungjawaban. Tanpa adanya
komitmen terhadap perencanaan dan pengambilan keputusan yang diambil oleh tim,
anggota tim tidak dapat meminta pertanggungjawaban kepada rekan kerjanya.
Mereka ragu-ragu untuk memberikan feedback kepada rekan kerja terkait dengan
performanya dalam tim. Mereka memilih untuk tidak mengingatkan rekan kerjanya
mengenai standar performa yang tinggi demi menghindari ketidaknyamanan antar
anggota tim.
5. Ketidakpedulian terhadap hasil yang
diperoleh tim. Tanpa adanya pertanggungjawaban, anggota tim akhirnya lebih fokus pada
tujuan pribadi ketimbang tujuan tim. Kegagalan untuk meminta pertanggungjawaban
kepada rekan kerja, menciptakan lingkungan dimana anggota tim tidak peduli
terhadap hasil yang diperoleh secara tim. Mereka cenderung mencari pengakuan
untuk diri sendiri dengan mengorbankan tujuan tim.
Jika tim sudah masuk ke dalam “perangkap-perangkap” tersebut,
langkah apa yang bisa tim lakukan? Berikut 5 cara yang dapat digunakan untuk
membangun tim yang kolektif dan efektif dalam menghadapi 5 hambatan yang
dijelaskan sebelumnya.
1. Bangun kepercayaan dalam tim. Untuk memiliki
kepercayaan terhadap satu sama lain, anggota tim dituntut untuk menampilkan
sisi rentan mereka dan yakin bahwa sisi rentan mereka tidak akan digunakan
untuk merugikan mereka. Berikut cara-cara membangun kepercayaan dalam tim.
- Setiap anggota tim saling
berbagi mengenai informasi dirinya kepada tim.
- Berikan
apresiasi untuk performa yang sudah baik serta feedback spesifik
dan kritik yang membangun untuk performa yang perlu diperbaiki.
- Kenali gaya perilaku dan
kepribadian setiap anggota tim.
2. Atasi rasa takut terhadap konflik. Tim yang terlibat
dalam konflik produktif menyadari bahwa tujuan dari konflik adalah untuk
menghasilkan solusi terbaik dalam waktu sesingkat mungkin. Mereka berani untuk
berdiskusi sehingga menyelesaikan masalah dengan cepat dan menyeluruh. Konflik
yang baik adalah dengan mendengarkan orang lain dan mempertimbangkan sudut
pandangnya. Berikut cara-cara mengembangkan kemauan anggota tim untuk terlibat
dalam konflik yang sehat.
- Pilih anggota tim untuk
bertanggung jawab selama meeting atau diskusi berlangsung. Setiap anggota
tim diberikan tugas untuk memimpin jalannya diskusi dan memunculkan
pendapat-pendapat dari setiap anggota tim.
- Anggota tim dapat saling
membimbing untuk mewujudkan diskusi yang sehat. Kenali anggota tim yang
merasa tidak nyaman selama diskusi dan ingatkan bahwa perbedaan dalam
diskusi merupakan hal yang wajar.
- Pahami kencederungan yang
terjadi dalam tim ketika muncul konflik. Buat strategi yang tepat untuk
menghadapi situasi yang muncul setiap konflik berbeda terjadi.
3. Tumbuhkan komitmen dalam tim. Komitmen akan
terwujud ketika ada kejelasan dan penerimaan terhadap perencanaan dan keputusan
tim. Dengan dua hal tersebut, setiap anggota tim dapat menyelesaikan meeting
atau diskusi dengan keyakinan bahwa setiap anggota tim akan menjalankan
keputusan yang telah disepakati bersama. Berikut cara-cara memaksimalkan
komitmen dalam tim.
- Tinjau kembali
keputusan-keputusan penting yang ditentukan selama meeting atau diskusi.
- Gunakan
deadline yang jelas mengenai kapan keputusan dibuat dan patuhi
waktu yang telah ditetapkan untuk menjalankan rencana tim.
4. Jalankan pertanggungjawaban dalam
tim. Pertanggungjawaban menunjukkan bahwa anggota tim saling menghormati dan
memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap performa satu sama lain. Meminta
pertanggungjawaban dari setiap anggota tim merupakan bentuk motivasi untuk
meningkatkan performa dan mempertahankan standar tinggi dalam tim. Berikut
cara-cara memastikan pertanggungjawaban dalam tim.
- Sampaikan kepada publik
mengenai tujuan yang harus dicapai tim, siapa yang bertanggung jawab, dan
strategi yang dilakukan agar dapat berhasil mencapai tujuan.
- Komunikasikan (secara langsung
atau tulisan) mengenai perkembangan performa setiap anggota tim.
- Berikan penghargaan secara tim
bukan individu.
- Tinjau kemajuan performa setiap
anggota tim secara teratur dan terjadwal (misalkan setiap meeting
mingguan).
5. Fokuskan atensi pada hasil yang perlu
diraih tim. Anggota tim akan lebih fokus pada hasil yang perlu diperoleh tim jika ada
definisi jelas mengenai hasil yang perlu dicapai dan pemberian penghargaan
kepada performa yang berkontribusi pada hasil tersebut. Berikut cara-cara
mengarahkan fokus tim kepada hasil.
- Nyatakan komitmen dalam tim
mengenai keinginan untuk mencapai hasil tim.
- Berikan penghargaan berdasarkan
keberhasilan dalam mencapai hasil tim.
- Buat papan skor untuk
menunjukkan kemajuan performa tim.
Untuk mencapai kerja sama tim yang efektif awali
dengan membangun kepercayaan antar anggota tim. Kemudian, munculkan keberanian untuk
terlibat dalam konflik sehingga akan menumbuhkan komitmen terhadap keputusan
yang diambil oleh tim. Minta pertanggungjawaban setiap anggota tim sehubungan
dengan keputusan yang telah diambil, dan fokuskan atensi kepada hasil yang
perlu diraih tim.